Jumat, 03 Oktober 2014

Isu Aset

Cerita Bungkus Permen

Kita sudah sering mendengar, melihat dan membaca himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Tulisan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya" sudah menjadi pemandangan biasa, namun belum membuat kita terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Saya tidak  akan membahas kenapa kita belum dapat membuang sampah pada tempatnya. Apalagi menceritakan kehidupan pribadi bungkus permen. Bungkus Permen dalam hal ini adalah sebuah bungkus bekas permen yang tidak dipakai atau sampah. Jadi saya akan memberikan alasan kenapa kita perlu membuang sampah atau bungkus permen pada tempatnya.
Sebuah bunkus permen memang tidak dapat membunuh kita secara langsung seperti rokok (tertulis pada bungkus rokok kalau rokok dapat membunuhmu). Tapi bagaimana jika kita tidak memperlakukan bungkus permen dengan baik. Banjir, Benar sekali. Kita hafal dampak lingkungan yang akan terjadi bila tidak membuang sampah sembarangan. Ancaman dari bungkus permen akan dampak lingkungan sudah tidak mempan untuk membuat kita perlu buangnya pada tempatnya. Pembahasan mengenai dampak lingkungan dari sampah sudah membuat kita bosan, seperti bosannya kita melihat tulisan "Buanglah Sampah Pada Tempatnya".
Perlu kita ketahui jika kita dapat mengelola bungkus permen atau sampah dengan benar maka banyak keuntung yang akan kita dapatkan. Kali ini bungkus permen tidak akan mengancam kita, namun akan menawarkan kita sebuah kerjasama. Kerjasama yang saling menguntungkan atau simbiosis mutualisme, hubungan saling menguntungkan antara makhluk hidup. Karena bungkus permen bukan makhluk hidup jadi kita lupakan istilah sismbiosi mutualisme. Kita kembali ke Laptop, kerjasama dengan bungkus permen.
Tebaran bungkus permen atau sampah di jalan mengakibatkan suatu biaya. Dinas Kebersihan Kota yang mengeluarkan biaya pemberisihan jalan. Jadi bila kita tidak membuang bungkus permen dkk di jalan dan tempat lainnya kita dapat menghemat biaya pembersihan jalan. Kita ambil contoh PD kebershan Kota Bandung yang mengeluarkan biaya sebesar Rp 25 Millyar dalam setahun untuk penyapuan, kata Cece Iskandar Direktur Utama PD Kebersihan Kota Bandung[1]. Lihat besarnya keuntungan yang akan kita dapatkan jika bila membuang sampah pada tempatnya. Biaya Rp 25 Millyar ini bisa dialihkan pada hal yang lain seperti pembuatan PLTSa atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah.
Perlakuan yang benar pada bungkus permen dkk, dapat memberikan kontribusi dalam mengurangi pengeluaran biaya yang dilakukan pemerintah. Mari kita perlakukan sampah dengan benar, dengan begitu kita sudah membantu membangun Indonesia jadi lebih baik. Jangan pikirkan apa yang sudah diberikan Negara pada kita, namun pikirkan apa yang sudah kita berikan pada Negara. Terima kasih telah membaca.

Referensi :
Iskandar, Cecep. "Di Bandung, Biaya Menyapu Jalan Rp 25 Miliar, "Tipping Fee" Rp 13 Miliar." KOMPAS. Ed. Anna shofiana syatiri.
3 Oktober 2014, 10:30 PM WIB. http://http://regional.kompas.com/read/2013/11/24/1014528/Di.Bandung.Biaya.Menyapu.Jalan.Rp.25.Miliar.Tipping.Fee.Rp.13.Miliar